Istilah “Wala” dan “Meron” saat ini sangat akrab di telinga para penggemar olahraga adu ketangkasan ayam digital. Dua kata ini digunakan secara universal untuk menandai dua kubu yang bertarung di arena: Meron untuk sisi merah dan Wala untuk sisi biru.
Namun, tahukah Anda bahwa konsep pertarungan ini bukan sekadar permainan modern? Praktik adu ayam memiliki rekam sejarah panjang yang membentang dari ritual adat kuno hingga menjadi industri hiburan berbasis teknologi digital seperti sekarang.

1. Akar Kuno: Ritual Adat dan Budaya Kuno
Jauh sebelum istilah Wala dan Meron dibakukan dalam sistem penyiaran digital, tradisi adu ayam telah berakar kuat di berbagai peradaban dunia, khususnya di Asia Tenggara.
-
Keagamaan dan Ritual Adat: Di berbagai wilayah seperti Bali (dengan tradisi Tajen) dan Filipina kuno, laga ayam awalnya dipraktikkan sebagai ritual keagamaan atau simbol persembahan kepada alam dan para leluhur. Tumpahan darah ayam dianggap sebagai simbol penyucian atau penyeimbang energi alam.
-
Simbol Status Sosial: Pada zaman kerajaan Nusantara dan Asia daratan, memiliki ayam jago tangguh adalah simbol status sosial, keberanian, dan kehormatan bagi para bangsawan maupun raja.
2. Asal-usul Istilah “Wala” dan “Meron”
Penggunaan nama Wala dan Meron berakar dari bahasa Tagalog (Filipina), tempat di mana budaya adu ayam (Sabong) memiliki regulasi paling terstruktur dan mengakar kuat.
-
Meron: Berasal dari kata Tagalog “Mayroon”, yang berarti “ada” atau “pemilik”. Dalam konteks pertarungan, istilah ini merujuk pada ayam yang difavoritkan, memiliki reputasi juara, atau berasal dari pemilik/peternak kaya (promoter). Untuk memudahkannya, kubu ini diberi penanda warna merah.
-
Wala: Berasal dari kata Tagalog “Wala”, yang berarti “tidak ada” atau “kosong”. Istilah ini digunakan untuk menandai posisi penantang (underdog) yang belum memiliki rekor kemenangan murni atau berasal dari pemilik biasa. Kubu ini diidentikkan dengan warna biru.
Seiring berjalannya waktu, perbedaan kelas sosial ini melebur, dan istilah Wala Meron murni digunakan sebagai penanda administratif untuk membedakan dua ayam yang bertanding di arena.
3. Era Komersialisasi dan Standardisasi Arena
Memasuki pertengahan abad ke-20, adu ayam di Filipina mulai bertransisi dari sekadar laga antar-kampung menjadi olahraga yang dilegalisasi dan dikelola secara profesional.
-
Pembangunan Arena Resmi: Arena-arena besar berstandar internasional mulai dibangun. Laga tidak lagi dilakukan di atas tanah berlumpur, melainkan di atas panggung berpasir dengan pencahayaan terang dan aturan pertandingan yang ketat.
-
Penggunaan Taji dan Durasi Waktu: Pertandingan dibatasi durasinya (umumnya maksimal 10 menit) dan dilengkapi penggunaan taji logam murni (cockspur) untuk menjaga ketajaman dan efisiensi waktu laga.
4. Era Digital: Transformasi Global Wala & Meron
Revolusi terbesar dalam sejarah sabung ayam terjadi pada awal abad ke-21 hingga era modern saat ini. Kehadiran teknologi internet memindahkan gelanggang fisik ke layar digital secara masif.
-
Siaran Langsung (Live Streaming): Laga dari arena-arena resmi di Filipina, Kamboja, dan Thailand kini dapat disaksikan secara langsung dalam format video resolusi tinggi oleh penonton dari berbagai belahan dunia.
-
Antarmuka Digital yang Seragam: Istilah Wala dan Meron dipertahankan dalam tampilan layar platform streaming online. Penonton di seluruh dunia kini mengenali penanda merah (Meron) dan biru (Wala) sebagai standar universal, lengkap dengan opsi hasil imbang seperti BDD (Both Death Draw) dan FTD (Full Time Draw).
Kesimpulan
Evolusi sabung ayam dari ritual sakral peradaban kuno hingga menjadi fenomena hiburan digital dengan istilah Wala dan Meron mencerminkan bagaimana budaya lokal dapat beradaptasi dengan zaman. Meskipun bentuk dan cara menyaksikannya telah berubah drastis dari gelanggang tanah ke layar smartphone, esensi adu ketangkasan, sejarah panjang, dan simbolismenya tetap menjadi bagian menarik dari perjalanan sejarah budaya manusia.